Rabu, 02 Desember 2009

Minggu, 22 November 2009

Tak perlu mewah,cukup lah.

Harapku tak setinggi menara eifel ato puncak dmna lembah kashmir berada.
Pintaku bukanlah pinta yg lebih sampai mewah(hanya pinta yg sdrha).
Bagiku tak lebih indah kemegahan serta kemewahan yg hanya bs kurasa d hdp yg hny sekejap mata dan fana.
karna aku tak butuh mewah,cukup lah.

Jangan pernah memaksaku merangkak d atas titian jurang terjal,karna ku tak setangguh itu.
Jangan pula kau paksa aku untuk membelakangimu dlm berjalan,karna ku bukan pemandu yg baik.

Namun jgn pernah kau merasa,kaki kecilku tak mampu mengantarku menaiki gedung 30 lantai tanpa lift ataupun escalator.karna km akan salah menilaiku sebatas itu,kawan.
Mgkn jg km akan berfikir dg dua lembar uang seribuan,aku hny bs dpt satu batang dji samsoe filter dan dua aqua gelas.meskipun bagimu benar,sangatlah salah bagiku sob.apa yg akan ku lakukan km takkan pernah tahu.apa yg aku fikirkan,itupun ga ada dalam rumus2mu terdahulu.

Hentikan saja sgala upayamu untuk lebih tahu dariku.ya perlu kamu ingat hanyalah:Tak butuh mewah,cukup lah.


Hanya itu lah aku,hanya dg begitu aku bs merasakan hidupku sendiri.
Karna hidupku bukanlah hidup yg abadi,so jangan kau paksa aku berlebih.
0

Selasa, 01 Desember 2009

Serah....

Diam......
Berhentilah merengek,......
Tak ingin ku terarak mendengarnya....
D pagi bekumu kian petang tak jua usai sedu-sedan mu......


Malam bergemintang rasa pekat,oleh suara bising d sela ratapmu.......


Sudahlah.....
Ringkas segala kesah itu.........
Akhiri rintih tak berarti-mu..
Dulu kau idamkan kini musnah padam.
Dulu kau banggakan sekarang t'lah menghilang.
Hanya tinggal bekas segores sePerginya tanpamu...


Apa....
Apa hendak kau arti-kah isak-tangis,keluh-kesah,sedu-sedan,duka-lara,.....dan apalah itu yg berisik d telingaku......



Apa-nya,.....
Apa-nya yg memaksamu bersedih,berduka,ber-air mata,bermuram durja,....dan apa pun itu yg semakin membuatku Muak melihat wajah bersihmu yg semrawut + acak-kadut,carut-marut tak keruan jadinya.......


Diam.....
Diamlah...
Diam saja....
Diamkan d keheningan,peka-kan rasamu berhening rela...
Heningkan malam-mu berlarut lalu....
Larutkan dukamu d terpa waktu........
Duka-kan dirimu yg tak ubah meratap.....
Ratapi alangkah esokmu lebih ber-arti........




Reda....
Guyuran air matamu tak lagi menetesi pipi...



Jernih.....
Suara angin begitu jelas terdengar.


Damai....
Selalu berhening.....
Tentram....
Tanpa suara yg menggelitik gendang telinga......
Rela....
Kuserahkan heningku untuk tangis yg kau sudahi.........
Biar.....
Hukum-Nya yg mengadili......,
Serah.....
Jiwamu yg berkalung gundah....
Ikhlas.....
Bukanlah satupun dari semua itu milikmu.

Senin, 30 November 2009

Catatan alam bawah sadar ku

Tiupan lirih angin malam ini serasa membelai ku dalam kesunyian.

Alunan merdu suara Muse melambungkan anganku akan seseorang.


Betapa masih kini kurasa cabikan lara yg tiada tertahan dan semakin perih menyayat rasa d dada.
Namunku tiada pernah bs mengembalikan masa-laluku pada kini ataupun esok ku kelak.

Aku hanya bisa mengingat,mengenangkan dan menyimpannya sebagai kisah yg mungkin akan ku abadikan menjadi sebuah catatan d alam bawah sadarku.
Dengan begitu,sewaktu-waktu ku bisa menengok dan membacanya kembali.

Aku tak akan pernah rela se-huruf dari catatan itu terhapus oleh lapuknya usia ku di akan datang.


Karna darinya pun ku akan teringat untuk tidak mengulang kesalahan yg sama di esok-ku.
Dan karena-nya pula akan ku belajar untuk lebih bisa menghargai perasaan orang yg ber-pengharap padaku.
Betapa tidak ku pun kehilangan apa yg telah menjadi sebagian dari hidupku.


terik yang telah merampas peluhku,malam yang dengan arogan merenggut pagi ku,pula waktu yang menggerogoti usiaku,......hanya sanggup ku biarkan berlalu tanpa menyisakan apa yang bisa ku kecap dan ku rasa.


Adakah kini ku berduka,gulana,meronta.....
Sungguh pun kutak tahu dengan apa melukiskannya semua itu.
Namun sedikit damaiku tak kan kubiarkan meninggalkanku,karna ku hanya butuh itu.